Aku tak tahu kapan aku akan sukses didalam hidupku. Aku hanya tahu bahwa aku pasti akan sukses. (Jo Coudert ) ^_^

Kamis, 22 Agustus 2013

PENDIDIKAN TASAWUF

BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Tasawuf
Pengertian tasawuf yang di dalam bahasa asing disebut mystic atau sufism, berasal dari kata suf yakni wol kasar yang dipakai oleh seorang muslim yang berusaha dengan berbagai upaya yang telah ditentukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Orang yang melakukan upaya demikian disebut sufi dan ilmu yang menjelaskan upaya-upaya serta tingkatan-tingkatan yang harus ditempuh untukmencapai tujuan dimaksud dinamakan ilmu tasawuf.



Ilmu tasawuf adalah ilmu yang menjelaskan tata cara pengembangan rohani manusia dalam rangka usaha mencari dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan pengembangan rohani,kaum sufi ingin menyelami makna syari’ah secara lebih mendalam dalam rangka menemukan hakekat agama dan ajaran agama Islam. Bagi kaum sufi yang mementingkan syari’ah dan hakikat sekaligus, shalat misalnya, tidaklah hanya sekedar pengucapan sejumlah kata dalam gerakan tertentu, tetapi adalah dialog spiritual antara manusia dengan Tuhan.
Sejak dahulu hingga sekarang, pembahasan tentang asal kata tasawuf belum pernah mencapaikata sepakat. Para ahli berbeda pendapat tentang kata itu, dijelaskan oleh Syeikh AhmadTaqiyuddin Ibnu Taimiyah bahwa perbedaan itu disebabakan karena adanya kata yangdinisbahkan kepada kata sesuatu. Ada yang dinisbahkan kepada kata safa dan safw yang artinya bersih dan suci. Maksudnya, kehidupan seorang seorang sufi lebih banyak diarahkan pada penyucian batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Suci, sebabTuhan tidak bisa didekati kecuali oleh orang yang suci. Adapun tentang definisi Tashawwuf itusendiri ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh sejumlah tokoh sufi. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Zakaria Al-Anshori : “Tashawwuf ialah suatu ilmu yang menjelaskan hal ihwal pembersih jiwa dan penyantun akhlak baik lahir atau batin, guna menjauhi bid’ah dan tidak meringankanibadah.
b.      Abul Qasim al-Qashairi ( W. 456H/1072M ): “Tashawwuf adalah menerapkan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi secara tepat berusaha menekan hawa nafsu, menjauhi bid’ah dantidak meringankan ibadah.
c.       Bisyr bin Haris al-Hafi ( W. 227H/841M ): “Seorang sufi ialah yang telah bersih hatinya, semata-mata untuk Allah SWT”.
d.      Abu Husain An-Nuri ( W. 295H/908M ): “Kaum sufi itu ialah kaum yang hatinya suci darikotoran basariyah ( hawa nafsu kemanusiaan ) dan kesalahan pribadi. Ia harus mampumembebaskkan diri dari syahwat sehingga ia berada pada shaf pertama dan mencapai derajat  yang mulia dalam kebenaran”.
B.     Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah sebuah kenyataan yang direncanakan untuk mewujudkan situasi dan proses belajar, untuk membuat siswa meningkatkan kemampuan mereka secara aktif untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan juga keterampilan yang dibutuhkan oleh mereka dan dengan lingkungan mereka. Pendidikan adalah suatu peralatan, perencanaan kurikulum, evaluasi belajar, metode belajar, dan juga latihan karier.
Definisi pendidikan menurut para ahli, diantaranya adalah :
1)      Menurut Juhn Dewey, pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup. (A. Yunus, 1999 : 7)
2)      Menurut H. Horne, pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia. (A. Yunus, 1999 : 7)
3)      Menurut Frederick J. Mc Donald, pendidkan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat (behavior) manusia. Yang dimaksud dengan behavior adalah setiap tanggapan atau perbuatan seseorang, sesuatu yang dilakukan oleh sesorang. (A. Yunus, 1999 : 7-8)
4)      Menurut M.J. Langeveld, pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi adalah setiap pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan lapangan atau suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung. (A. Yunus, 1999 :
Sedangkan dalam segi Islam, pendidikan itu sendiri adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan, Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori. (Nur Uhbiyati, 1998)
Pengertian pendidikan bahkan lebih diperluas cakupannya sebagai aktivitas dan fenomena. Pendidikan sebagai aktivitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental, dan sosial sedangkan pendidikan sebagai fenomena adalah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak, yang kedua pengertian ini harus bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari al Qur’an dan Sunnah (Hadist).
Dr. Muhammad Fadhil Al-Jamali memberikan pengertian pendidikan islam sebagai upaya mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia untk lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan.
Definisi tersebut memiliki tiga prinsip pendidikan islam sebagai berikut:
a.       pendidikan merupakan proses perbantuan pencapaian tingkat keimanan dan berilmu (   QS. Al-Mujadilah 58:11)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
1.      Sebagai model, maka Rasulullah saw sebagai uswatun hasanah (QS. Al-Ahzab 33:21) yang dijamin Allah memiliki akhlaq mulia (QS. Al-Qalam 68:4)
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab 33:21)
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam 68:4)
2.      Pada manusia terdapat potensi baik dan buruk (QS. Asy-Syam 91:7-8), potensi negatif seperti lemah (QS. An-Nisa’ 4: 28), tergesa-gesa (QS. Al-Anbiya 21: 37), berkeluh kesah (QS. Al-Maarij 70: 19), dan ruh Allah yang ditiupkan kepadanya pada saat penyempurnaan penciptaannya (QS. At-Tin 95: 4). Oleh karena itu pendidikan ditujukan sebagai pembangkit potensi baik yang ada pada anak didik dan mengurangi potensinya yang jelek. [3]
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَافَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”(QS. Asy-Syam 91:7-8)
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الإنْسَانُ ضَعِيفًا
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”(QS. An-Nisa’ 4: 28)
خُلِقَ الإنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلا تَسْتَعْجِلُونِ
“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab) -Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”(QS. Al-Anbiya 21: 37)
إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir”(QS. Al-Maarij 70: 19)
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”(QS. At-Tin 95: 4)
C.     Hubungan Tasawuf dan Pendidikan
Tasawuf pada dasarnya adalah sebuah model pendidikan, namun pendidikan model tasawuf sulit diterima sebagai model pendidikan akademik. Sebab apa yang akan didapat dari model pendidikan tasawuf tidak dapat diukur dalam pendidikan modern dewasa ini. Sebagai contoh, Makrifat adalah sejenis pengetahuan dengan mana para sufi menangkap hakikat atau realitas yang menjadi obsesi mereka. Makrifat berbeda dengan jenis pengetahuan yang lain, karena ia menangkap objeknya secara langsung, tidak melalui “representasi”, sedangkan objek-objek intuisi, hadir begitu saja dalam diri orang itu, dank arena itu sering disebut ilmu “hudhuri” dan bukan ilmu “hushuli”, yakni ilmu yang diperoleh melalui latihan dan percobaan.
Perbedaan makrifat dan jenis pengetahuan yang lain adalah cara memperolehnya. Jenis pengetahuan biasa diperoleh melalui usaha keras, seperti belajar, merenung dan berpikir keras melalui cara-cara yang logis. Jadi manusia memang betul-betul berusaha dengan segenap kemampuanya untuk memperoleh objek pengetahuannya. Tetapi makrifat tidak bisa sepenuhnya diusahakan manusia. Pada tahap akhir semuanya bergantung pada kemurahan Tuhan.
Model pendidikan tasawuf sebenarnya juga pernah diterapkan dalam model pendidikan kepribadian masyarakat Jawa dikalangan Istana. Dalam peristilahan Jawa kita mengenal sejumlah kata yang menunjukan betapa petingnya pendidikan yang membuat orang waskita, wicaksana, wirya, dan sampurna. Kata-kata seperti kawaskitaan, kawicaksanaan, kawiryan, dan kasampurnan merupakan atribut dari mereka yang kepribadian sempurna, salah satu syarat bagi kepemimpinan. Kualitas kepribadian itu bukanlah keterampilan, atau keahlian sebuah profesi, tetapi syarat umum bagi manusia ‘Jawa’, beradab.
Transisi model pendidikan tasawuf ke arah pendidikan modern sebenarnya terjadi di dunia pendidikan pesantren. Menurut Kuntowijoyo, pendidikan pesantren berhasil menciptakan jenis kepribadian tersendiri, tidak diragukan. Kata-kata kunci seperti tawadhu (rendah hati) ikhlas, sabar, memenuhi etika hidup para santri. Lukisan-lukisan mengenai kepribadian seseorang digambarkan melalui perwatakan para Nabi atau para Orang Suci dari sahabat Nabi.
Selain mempelajari etika yang berdasarkan agama, di pesantren juga diajarkan mata pelajaran formal lingkungan pesantren, itu jelas merupakan mata ajaran humaniora yang terpadu dengan agama, maka kehidupan kultural di lingkungan pesantren membantu penyelenggaraan pendidikan humaniora secara informal. Banyak sekali pengalaman kemanusian yang didapat oleh para santri pada waktu belajar dan sesudah belajar. Upacara-upacara peringatan hari-hari besar yang diadakan sepanjang tahun merupakan pengalaman keagamaan sekaligus pengalaman kemanusian yang khas pesantren. Dalam kumpulan cerita pendek Jamil Suherman, Umi Kalsum, dilukiskan diantaranya upacara mauludan yang memperingati kelahiran Nabi di Pesantren Jawa Timur. Bagi para santri dan penduduk desa pesantren umumnya malam mauludan adalah peristiwa yang paling mengesankan dalam hidup; keramaian terdiri dari arak-arakan selamatan dan berpuncak pada upacara pembacaan tarikh nabi. Pendidikan kemanusian juga tercermin dalam berbagai kisah sejarah nabi dan para sahabatnya.
Lebih jauh, peranan pesantren dalam mentransformasikan model pendidikan tasawuf kepada masyarakat mempunyai peranan yang penting.Sejarah menunjukan bahwa peranan pesantren bagi kehidupan orang Jawa di pedesaan sangat penting. Budaya pesantren juga dialirkan kepedesaan.  Sampai sekarang bentuk-bentuk kesenian yang ada di desa dan sangat dipengaruhi oleh pesantren ialah solawatan dalam berbagai variasinya.

Hubungan antara tradisi pesantren dengan pedesaan dapat pula dilihat dari mata rantai persaudaraan tarekat. Gerakan-gerakan tarekat menjadi begitu penting di masa lalu dan masih sangat penting juga di masa kini. Tarekat yang mempunyai disiplin keras merupakan pendidikan yang efektif bagi para pesertanya. Melalui sebuah bai’at hubungan antara guru, (mursyid) dan murid merupakan ikatan seumur hidup. Dan melalui pemberian ijazah tuntunan dari guru kepada murid itu diberikan. Mata rantai antara murid wakil guru (badal mursyid) dan murid merupakan hubungan kemanusian dan spiritual yang mengikat. Tujuan zuhud yaitu menghidarkan diri dari kesenangan duniawi, menjadi puncak etik pengikut tarekat, sedangkan kesempurnaan spiritual dinyatakan dalam berbagai tingkatan (maqam) rohaniah. Dengan gambaran tentang pesantren dan budayanya menjadi terang, bagaimana sumbangan pesantren dalam kehidupan masyarakat pedesaan sebagai tempat bermuaranya semua kreatifitas budaya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Buku Tamu